Thaharah, Shalat, Zakat, Barang Temuan, Manasik, Nikah, Talak, Puasa, Jihad, Sembelihan, Buruan, Wasiat, Waris, Pajak, Kepemimpinan, Peradilan, Pengobatan, Huruf dan Bacaan, Pemandian Umum, Pakaian, Merapikan rambut, Cincin

Menghormati Ilmu

Hadits Darimi 644

Para ulama zaman dahulu enggan mendatangi ahlud dunia (orang yg mencintai keduniaan) untuk menyampaikan ilmu mereka, sehingga orang yg mencintai keduniaan itu menjadi suka dgn ilmu mereka, sehingga mereka mau mengeluarkan harta untuk mereka (para ulama). Sedangkan para ulama zaman sekarang, mereka menyampaikan ilmu kepada orang yg mencintai keduniaan, hingga orang yg mencintai keduniaan itu menjadi tak butuh dgn mereka, & mereka pun enggan mengeluarkan harta untuk mereka (para ulama)' . [HR. Darimi No.644].

Hadits Darimi No.644 Secara Lengkap

[[[]]]

Hadits Darimi 645

sikap ketus seperti apa yg kamu lihat dariku?', ia menjawab: 'Begini, kulihat para penduduk Madinah menemui aku, tetapi kamu tak mau menemui diriku.' Lalu ia menjawab: 'Wahai amirul mu`minin, aku berdo`a semoga Allah subhanallahu wa ta'ala melindungi kamu untuk tak mengatakan apa yg tak terjadi sebenarnya, kamu tak mengenal sebelum hari ini & aku pun tak pernah melihatmu (sebelumnya)'. Dhahak bin Musa mengatakan: 'Lalu Sulaiman menoleh kepada Muhammad bin Syihab Az Zuhri', seraya berkata:
'Syaikh ini, Abu Hazim, ia benar & aku yg salah', Sulaiman berkata:
'Wahai Abu Hazim, Mengapa kita membenci kematian?', Ia menjawab: 'Karena kita menghancurkan akhirat & membangun dunia, sehingga kalian membenci untuk berpindah dari pembangunan menuju penghancuran'. Sulaiman menjawab: 'Kamu benar, wahai Abu hazim, bagaimana kita besok menghadap Allah subhanallahu wa ta'ala,?', ia menjawab: 'Adapun orang yg baik, ia mendatangi Allah subhanallahu wa ta'ala seperti orang yg sekian lama tak bertemu keluarganya, sedangkan orang yg jahat, ia seperti budak yg lari mendatangi tuannya', Mendengar perkataan ini Sulaiman menangis, ia bertanya: 'Aku bersumpah, apa bekal kita di sisi Allah subhanallahu wa ta'ala?', Ia menjawab: 'Sesuaikan amal perbuatanmu dgn Kitab Allah subhanallahu wa ta'ala. Lalu ia bertanya : 'Di ayat manakah aku dapat mendapatinya?', ia menjawab: INNAL `ABRARA LAFII NA'IM, WA INNAL FUJJARA LAFII JAHIIM ( orang-orang yg banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yg penuh dgn kenikmatan, & orang-orang yg durhaka benar-benar berada dalam neraka)-Qs. Al Infithar: 13,14-. Sulaiman bertanya lagi: 'Dimanakah rahmat Allah subhanallahu wa ta'ala?', ia menjawab: 'Rahmat Allah subhanallahu wa ta'ala lebih dekat kepada orang-orang yg berbakti', Sulaiman bertanya: 'Wahai Abu hazim, siapakah hamba Allah subhanallahu wa ta'ala yg paling mulia?', ia menjawab: 'Orang-orang yg memiliki rasa kemanusiaan & memiliki akal', Sulaiman bertanya: 'Amal perbuatan apa yg paling utama?', Abu Hazim menjawab: 'Melaksanakan kewajiban dibarengi meninggalkan semua hal yg diharamkan', Sulaiman terus bertanya: 'Do`a apa yg paling didengar?', Abu Hazim menjawab: 'Do`a orang yg diberi kebajikan untuk orang yg memberikan kebajikan', ia bertanya lagi: 'Sedekah apa yg paling utama?', ia menjawab: 'Sedekah untuk peminta-minta yg sangat membutuhkan & pemberian orang yg sangat sedikit hartanya tanpa mengungkit-ungkit kebajikannya & tanpa kata yg menyakitkan', ia bertanya lagi: 'Perkataan apa yg paling adil?', ia menjawab: 'Berkata benar terhadap orang yg kamu takuti atau terhadap orang yg kamu harapkan', ia bertanya lagi: 'Siapakah orang beriman yg cerdik?', ia menjawab: 'Seorang yg melakukan ketaatan kepada Allah subhanallahu wa ta'ala & menunjukkan manusia kepada ketaatan itu', ia bertanya: 'Siapakah orang beriman yg bodoh?', ia menjawab: 'Seorang yg jatuh (tunduk) pada nafsu saudaranya yg dzalim, ia menjual akhiratnya dgn dunia orang lain'. Sulaiman berkata kepadanya: 'kamu benar, bagaimana pendapatmu tentang kondisi kami sekarang ini?', ia menjawab: 'Wahai amirul mu`minin, apakah engkau memaafkan aku?', Sulaiman menjawab: 'Tidak, tapi itu betul-betul nasehat yg kau campakkan kepadaku!', Abu Hazim berkata:
'Wahai amirul mu`minin, para leluhurmu telah menindas manusia dgn pedang, & mengambil kekuasaan secara paksa tanpa bermusyawarah kepada kaum muslimin & tanpa meminta kerelaan mereka, hingga mereka (leluhurmu) membunuh mereka dgn pembunuhan besar-besaran (masal) & sungguh mereka telah pergi meninggalkannya, Ohhh,,,,,seandainya kamu merasakan apa yg mereka katakan & kritikan untuk mereka itu!'. Salah seorang dari anggota majelis khalifah berkata kepadanya: 'Alangkah buruknya perkataanmu, wahai Abu Hazim', Abu Hazim menjawab: 'Kamu telah berdusta, Allah subhanallahu wa ta'ala telah mengambil perjanjian dari para ulama`agar mereka menjelaskannya kepada manusia & tak menyembunyikannya sedikitpun', Sulaiman berkata kepadanya: 'Bagaimana cara kami memperbaikinya?', ia menjawabnya: 'Menjauhkan sikap berpura-pura & berpedoman dgn sikap kemanusiaan serta tak ada lagi diskriminasi', Sulaiman bertanya lagi: 'Bagaimana cara kami memperaktekkannya?', Abu Hazim menjawab: 'Kamu mengambilnya dari hal yg halal & meletakkannya pada mereka yg berhak menerimanya'. Sulaiman berkata kepadanya: 'Wahai Abu Hazim, apakah kamu berkenan menyertai kami, hingga kamu dapat membenarkan kesalahan kami & kami dapat membenarkan kesalahanmu?', ia berkata:
'Aku berlindung kepada Allah subhanallahu wa ta'ala', Sulaiman bertanya: 'Mengapa harus demikian?', ia menjawab: 'Karena aku takut cenderung berpihak kepadamu walau sedikit saja, niscaya Allah subhanallahu wa ta'ala akan menimpakan kepadaku kelemahan hidup & kelemahan (diri dalam menghadapi) kematian', Sulaiman berkata kepadanya: 'Katakanlah kepada kami (apa saja) keperluan kamu?', ia menjawab: 'Kamu selamatkan aku dari neraka & masukkanlah aku ke dalam surga', Sulaiman menjawab: 'Itu bukanlah permohonan kepadaku', Abu Hazim berkata:
'Jika demikian, aku tak memiliki keperluan darimu', Sulaiman berkata:
'Wahai Abu hazim, doakanlah aku!', Abu Hazim lantas berdo`a: 'Ya Allah jika Sulaiman adl waliMu, mudahkan ia untuk kebaikan dunia akhirat, & jika ia adl musuhMu, tariklah ubun-ubunnya ke jalan yg Engkau cintai & ridlai'. Sulaiman bertanya: 'Hanya itu saja' Abu Hazim menjawab: 'Maaf aja,,,,telah kuperingkas nasehat ini & aku telah banyak bicara, kiranya kamu termasuk orang yg insyaf terhadap nasehatku ini, kalaulah tidak, apa manfaatku melontar panah dari busur yg tak memiliki tali senar'. Sulaiman berkata kepadaku: 'Nasehatilah aku!', ia menjawab: 'Aku mau menasehati kamu dgn nasehat yg ringkas: Agungkanlah Tuhanmu, & sucikanlah Dia, karena Dia melihatmu di tempat tinggal-Nya yg Dia pergunakan untuk melarangmu, & Dia bisa mengintaimu ditempat Dia memerintahkanmu'. Ketika itu Sualiman bin Abdul Malik keluar dari sisinya Abu Hazim), ia mengirim kepadanya seratus dinar & menuliskan surat yg isinya: 'Infaklah uang itu & kamu masih mendapatkan tambahan yg sama di sisiku', perawi berkata:
'Abu Hazim mengembalikan uang itu & menulis surat yg isinya: 'Wahai amirul mu`minin, aku mohon perlindungan kepada Allah subhanallahu wa ta'ala untukmu jika permintaanmu kepadaku hanyalah sekedar dagelan (lelucon) atau jawabanku adl pengorbanan. Suatu hal yg aku tak merelakannya untukmu, bagaimana mungkin aku merelakannya untuk diriku sendiri?', & ia menulis surat kepadanya: 'Bahwa Musa bin Imran 'alaihissalam ketika sampai di mata air negeri Madyan, di sana ia menjumpai sekumpulan orang yg sedang memberi minum ternak mereka, ia dapati di belakang orang banyak itu dua orang wanita sedang menambatkan ternaknya, lalu ia menanyakan keduanya, keduanya menjawab: 'Kami tak dapat memberi minum ternak kami sebelum pengembala-pengembala itu membawa pulang ternak mereka, sedangkan ayah kami adl orang tua yg sudah lanjut usia', Musa 'alaihissalam membari minum pada ternak (keduanya) dgn niyatan menolong. Ia pergi berteduh seraya berdo`a: 'Ya Tuhanku, aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yg Engkau turunkan kepadaku', hal itu karena ia lapar & dalam keadaan takut serta tak merasa aman, ia berdo`a kepada Tuhannya & tak meminta kepada manusia. Para pengembala tak memperhatikannya tapi kedua wanita itu justru memperhatikannya', ketika keduanya kembali kepada ayahnya, keduanya mengabarkan kisah & perkataannya, lalu bapaknya (Syu'aib) berkata:
'Ini orang lapar', lalu ia berkata kepada salah seorang dari kedua putrinya: 'Panggilah orang itu!', ketika ia (Musa) menemuinya, ia menghormati Musa & menutup wajahnya, & berkata:
'Ayahku memanggilmu untuk memberi upah terhadap kebaikanmu memberi minum ternak kami'. Berat terasa bagi Musa 'alaihissalam ketika wanita itu menyebut upah memberi minum ternak, akan tetapi ia tak menemukan jalan lain kecuali mengikutinya, karena dalam kondisi lapar sekali diantara barisan gunung. Ketika ia mengikutinya, angin kencang menerpa sehingga melekatkan pakaiannya pada punggungnya, lalu nampak oleh Musa 'alaihissalam lekukan pantatnya & ia adl seorang wanita yg memiliki pantat besar, sehingga Musa 'alaihissalam sekali berpaling & sekali menundukkan pandangan ketika kesabarannya melemah, ia memanggilnya: 'Wahai hamba Allah subhanallahu wa ta'ala, berjalanlah kamu di belakangku & tunjukkanlah aku jalan dgn ucapan ini', Ketika ia sampai & bertemu Syu'aib & telah dipersiapkan baginya makan malam, Syu'aib berkata kepadanya: 'Niscaya kamu akan aman'. Musa 'alaihissalam berkata kepadanya: 'Aku berlindung kepada Allah subhanallahu wa ta'ala' , Syu'aib bertanya: 'Kenapa?, bukankah kamu lapar?', ia menjawab: 'Ya, tapi aku takut kalau ini merupakan imbalan memberi minum ternak keduanya, & aku anggota keluarga yg tak menjual sedikitpun dari agama kami dgn emas seisi bumi pun', Syu'aib berkata kepadanya: 'Tidak, wahai pemuda! Tetapi ini adl kebiasaanku & nenek moyangku, kami menyuguhkan tamu & memberi makan, lalu Musa 'alaihissalam duduk & makan. Jika seratus dinar ini sebagai imbalan apa yg telah terjadi, bangkai, darah & daging babi dalam kondiksi terpaksa lebih halal dari pada uang ini, & jika uang itu dimasukkan ke baitulmaal, aku memiliki para pengatur di dalamnya. Ini jika kamu mau membereskan persoalan diantara kita, & jika tidak, aku juga tak membutuhkan uang itu' . [HR. Darimi No.645].

Hadits Darimi No.645 Secara Lengkap

[[[]]]

Hadits Darimi 646

Wahai orang berilmu, amalkan ilmumu, berikan kelebihan hartamu, & tahanlah kelebihan perkataanmu kecuali sedikit pembicaraan, akan bermanfaat bagimu di sisi Tuhanmu. Wahai orang berilmu, sesuatu yg kamu ketahui tetapi tak kamu amalkan adl pemotong argumentasi & alasanmu di sisi Tuhanmu ketika kamu menemui-Nya. Wahai orang berilmu , taat kepada Allah yg diperintahkan kepadamu sebenarnya telah menyibukkanmu dari maksiat kepada Allah yg dilarang untukmu. Wahai orang berilmu, janganlah kamu menjadi orang kuat yg meneropong perbuatan orang lain, namun kamu sendiri manusia lemah dalam mengerjakan (suatu amal) untuk dirimu sendiri. Wahai orang berilmu, janganlah apa yg dimiliki orang lain, membuatmu lupa terhadap apa yg kamu miliki. Wahai orang berilmu , ajaklah bicara para `ulama, bergaulah dgn mereka & dengarkanlah perkataan mereka & janganlah kamu menentangnya. Wahai orang berilmu, agungkanlah ulama karena ilmu mereka & janganlah kamu menghormati orang-orang bodoh karena kebodohan mereka, namun jangan menjauhi mereka, tetapi dekatilah & ajarilah mereka. Wahai orang berilmu, janganlah kamu membicarakan suatu hadits di suatu majelis sehingga kamu betul-betul memahaminya, & janganlah menjawab pertanyaan orang hingga engkau tahu persis apa yg diucapkannya kepadamu. Wahai orang berilmu, janganlah kamu tertipu oleh Allah & jangan pula kamu tertipu oleh manusia. Tertipu oleh Allah maksudnya meninggalkan perintah-Nya, & tertipu oleh manusia maksudnya mengikuti hawa nafsu mereka. Takutlah kepada Allah dalam semua hal yg Dia mengajakmu takut terhadap diri-Nya, & hindarilah manusia karena fitnah mereka. Wahai orang berilmu, cahaya siang tidaklah sempurna kecuali dgn matahari, begitu pula hikmah tak sempurna kecuali dgn menaati Allah subhanallahu wa ta'ala. Wahai orang berilmu, tanaman tak baik kecuali dgn air & tanah, begitu pula dgn iman tak baik kecuali dgn ilmu & amal. Wahai orang berilmu, setiap musafir haruslah berbekal, & ia dapatkan bekalnya apabila ia dibutuhkannya, begitu pula dgn setiap orang yg beramal, di akhirat akan ia dapatkan apa yg telah diperbuatnya di dunia apabila ia butuhkan amal perbuatannya. Wahai orang berilmu, Apabila Allah subhanallahu wa ta'ala berkehendak mendorongmu dalam beribadah kepadaNya, ketahuilah bahwa Dia ingin menampakkan karamah-Nya terhadapmu, maka janganlah kamu mengalihkannya kepada selainNya, sehingga kamu tinggalkan kemuliaanNya & malah kamu dapatkan kehinaan hidup. Wahai orang berilmu, Jika kamu memindahkan batu atau besi, itu lebih ringan bagimu daripada berbicara kepada orang yg tak menerima pembicaraanmu, perumpamaan orang yg berbicara kepada orang yg tak menerima pembicaraannya adl seperti orang yg memanggil orang mati & meletakkan hidangan untuk penghuni kubur. [HR. Darimi No.646].

Hadits Darimi No.646 Secara Lengkap

[[[]]]