Thaharah, Shalat, Zakat, Barang Temuan, Manasik, Nikah, Talak, Puasa, Jihad, Sembelihan, Buruan, Wasiat, Waris, Pajak, Kepemimpinan, Peradilan, Pengobatan, Huruf dan Bacaan, Pemandian Umum, Pakaian, Merapikan rambut, Cincin

Pendapat yang Mengatakan Tidak Ada Nikah Kecuali Dengan Wali

Hadits Bukhari 4732

Sesungguhnya pada masa Jahiliyah ada empat macam bentuk pernikahan. Pertama, adl pernikahan sebagaimana dilakukan orang-orang pada saat sekarang ini, yaitu seorang laki-laki meminang kepada wali sang wanita, kemudian memberikannya mahar lalu menikahinya. Bentuk kedua yaitu; Seorang suami berkata kepada isterinya pada saat suci (tidak haidl/subur), Temuilah si Fulan & bergaullah (bersetubuh) dengannya. Sementara sang suami menjauhinya sementara waktu (tidak menjima'nya) hingga benar-benar ia positif hamil dari hasil persetubuhannya dgn laki-laki itu. Dan jika dinyatakan telah positif hamil, barulah sang suami tadi menggauli isterinya bila ia suka. Ia melakukan hal itu, hanya untuk mendapatkan keturuan yg baik. Istilah nikah ini adl Nikah Al Istibdlaa'. Kemudian bentuk ketiga; Sekelompok orang (kurang dari sepuluh) menggauli seorang wanita. Dan jika ternyata wanita itu hamil & melahirkan. Maka setelah masa bersalinnya telah berlalu beberapa hari, wanita itu pun mengirimkan surat kepada sekelompok laki-laki tadi, & tak seorang pun yg boleh menolak. Hingga mereka pun berkumpul di tempat sang wanita itu. Lalu wanita itu pun berkata, Kalian telah tahu apa urusan kalian yg dulu. Dan aku telah melahirnya, maka anak itu adl anakmu wania Fulan. Yakni, wanita itu memilih nama salah seorang dari mereka yg ia sukai, & laki-laki yg ditunjuk tak dapat mengelak. Kemudian bentuk keempat; Orang banyak berkumpul, lalu menggauli seorang wanita, & tak seorang pun yg dapat menolak bagi yg orang yg telah menggauli sang wanita. Para wanita itu adl wanita pelacur. Mereka menancapkan tanda pada pintu-pintu rumah mereka sebagai tanda, siapa yg ingin mereka maka ia boleh masuk & bergaul dgn mereka. Dan ketika salah seorang dari mereka hamil, lalu melahirkan, maka mereka (orang banyak itu) pun dikumpulkan, lalu dipanggilkanlah orang yg ahli seluk beluk nasab (Alqafah), & Al Qafah inilah yg menyerahkan anak sang wanita itu kepada orang yg dianggapnya sebagai bapaknya, sehingga anak itu dipanggil sebagai anak darinya. Dan orang itu tak bisa mengelak. Maka ketika Nabi Muhammad diutus dgn membawa kebenaran, beliau pun memusnahkan segala bentuk pernikahan jahiliyah, kecuali pernikahan yg dilakoni oleh orang-orang hari ini. [HR. Bukhari No.4732].

Hadits Bukhari No.4732 Secara Lengkap

[[[]]]

Hadits Bukhari 4733

Ini terkait dgn anak perempuan yatim yg berada di bawah asuhan seseorang, yg ia berharap anak perempuan yatim itu dapat menjadi syarikat dalam hartanya. Dan dia merasa bahwa dialah orang yg paling berhak akan hal itu. Karena itu ia tak mau menikahinya sebab akan menghalangi dirinya untuk mendapatkan harta sang anak perempuan yatim. Dan ia pun tak sudi menikahkannya dgn orang lain, karena tak suka bila ada seseorang yg turut campur dalam hartanya. [HR. Bukhari No.4733].

Hadits Bukhari No.4733 Secara Lengkap

[[[]]]

Hadits Bukhari 4734

Ketika Hafshah binti Umar menjadi janda lantaran wafat Ibnu Hudzafah As Sahmi -ia termasuk salah seorang sahabat Nabi , ahli Badar yg wafat di Madinah- maka Umar berkata; Aku menemui Utsman bin Affan & menawarkan Hafshah padanya, kukatakan padanya, Jika kamu mau, maka aku akan menikahkan Hafshah denganmu. Ia berkata, Aku akan memikirkannya terlebih dahulu. Maka aku pun menunggu beberapa malam, lalu ia mendatangiku & berkata, Aku telah mengambil keputusan, bahwa aku tak akan menikah untuk hari-hari ini. Kemudian aku menemui Abu Bakar & berkata, Jika kamu mau, aku akan menikahkan Hafshah denganmu. [HR. Bukhari No.4734].

Hadits Bukhari No.4734 Secara Lengkap

[[[]]]

Hadits Bukhari 4735

Maka ia pun menikahkan wanita itu kepadanya. [HR. Bukhari No.4735].

Hadits Bukhari No.4735 Secara Lengkap

[[[]]]